Diberdayakan oleh Blogger.
Dapatkan GRATIS EBOOK tentang Manajemen Sumber Daya Manusia, HRD, Human Capital, Leadership, Public Speaking & Ilmu Pengembangan Diri

Bergabunglah dengan Ribuan Sahabat HRD & Leader Pembelajar lainnya :

Grup Telegram Komunitas Young HRD Indonesia
Youtube Channel Komunitas Young HRD Indonesia
Halaman Facebook Komunitas HRD Indonesia



Tampilkan postingan dengan label People Management. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label People Management. Tampilkan semua postingan

Jumat, 16 Februari 2024

How to Develop People John Maxwell - Cara Mengembangkan Tim Hebat di Perusahaan Anda



ACTION PLAN FOR LEADER (LEVEL 4) dari Coach John Maxwell

Hanya pemimpinlah yang bisa mengembangkan orang lain hingga menjadi pemimpin. Seseorang yang mempunyai maksud baik namun tidak memiliki pengetahuan dan pengalaman kepemimpinan sama sekali tidak bisa melatih orang lain untuk memimpin. Orang-orang yang mempelajari kepemimpinan tanpa mempraktikkannya tidak bisa memperlengkapi orang lain untuk memimpin, sama seperti pembaca buku masakan yang tidak pernah mencoba sendiri resep itu di dapur. Ia tidak akan bisa mengajari orang lain memasak. Tidak ada seorang pun yang benar-benar memahami kepemimpinan hingga ia melakukannya. 

Dengan kata lain :

✅Dibutuhkan seorang pemimpin untuk MENGENALI pemimpin lain (Merekrut dan Menempatkan) 

✅Dibutuhkan seorang pemimpin untuk MENUNJUKKAN JALAN BAGI pemimpin lain (Menjadi Teladan dan Memperlengkapi)

✅Dibutuhkan seorang pemimpin untuk MENGEMBANGKAN pemimpin lain (Mengembangkan, Memberdayakan dan Mengukur) 



HOW TO DEVELOP PEOPLE

Jika Anda ingin memaksimalkan level Mengembangkan Orang Lain (Level 4) dan mengembangkan pemimpin, ikuti panduan berikut ini :

1. Perekrutan - temukan orang terbaik 

2. Penempatan - tempatkan orang yang tepat di tempat yang tepat

3. Menjadi Teladan - menunjukkan cara untuk memimpin pada orang lain

4. Memperlengkapi - membantu yang lain melakukan pekerjaan mereka dengan baik

5. Mengembangkan - mengajari mereka untuk hidup dengan baik

6. Memberdayakan - membuat orang lain bisa meraih kesuksesan

7. Mengukur - mengevaluasi orang-orang yang sudah Anda kembangkan untuk memaksimalkan usaha mereka
 

Bagi yang berminat ulasan lebih detail dari 7 langkah-langkah di atas bisa tulis di komentar ya 


Jumat, 26 Januari 2024

How to Influence People John Maxwell - Cara Menjadi Pemimpin Berpengaruh di Perusahaan Anda




LEVEL-LEVEL PENGARUH DAN DAMPAKNYA

Kepemimpinan - penerapan khusus dari pengaruh - yang hanya dilandasi oleh posisi ada di level terendah. 

Kepemimpinan bertumbuh dan beranjak lebih tinggi saat Anda mengembangkan hubungan dengan orang lain.  Hal itu terjadi jika mereka mengizinkan Anda memimpin di luar batas deskripsi pekerjaan Anda. 

Saat Anda dan para pengikut Anda sama sama menjadi semakin produktif dalam bekerja, kepemimpinan Anda menanjak di level 3.

Lalu, ketika Anda mulai mengembangkan orang lain dan membantu mereka memaksimalkan potensi, kepemimpinan Anda bergerak naik ke level 4.

Hanya sedikit orang yang mencapai level 5, karena level itu mengharuskan kita menghabiskan waktu seumur hidup untuk mengembangkan orang lain hingga meraih potensi tertinggi mereka.

Pengaruh berfungi dengan cara yang sama dan bertumbuh secara bertahap. 


LEVEL 1 : MEMBERI TELADAN

Pertama-tama, kita dipengaruhi oleh apa yang kita lihat. Jika Anda punya anak, mungkin Anda sudah mengamati hal ini. Apa pun yang Anda katakan pada anak-anak Anda untuk mereka lakukan, kecenderungan alami mereka adalah mengikuti apa yang mereka lihat Anda lakukan

Hampir semua orang yang melihat Anda bersikap positif, tepercaya, serta memiliki kualitas terpuji pasti akan memandang Anda sebagai pribadi yang berpengaruh dalam hidup mereka. Semakin mereka mengenal Anda, semakin besar kredibilitas Anda dan semakin tinggi pula level pengaruh Anda. 


LEVEL 2 : MEMBERI MOTIVASI

Jika Anda ingin membuat dampak yang berarti pada kehidupan orang lain, Anda harus melakukannya dari dekat. 

Anda menjadi pribadi berpengaruh yang memotivasi dengan mendukung orang lain dan berkomunikasi hati ke hati dengan mereka. 

Proses ini melakukan dua hal :

- Membangun jembatan antara Anda dan mereka

- Membangun kepercayaan diri dan perasaan berharga dalam diri mereka. 

Ketika orang lain merasa nyaman dengan Anda dan diri mereka sendiri saat bersama-sama dengan Anda, level pengaruh Anda akan meningkat drastis. 


LEVEL 3 : MENJADI MENTOR

Ketika Anda menjadi teladan integritas dan berhasil mencapai level pengaruh karena memotivasi orang lain, Anda mulai melihat dampak positif dalam hidup mereka. Untuk meningkatkan pengaruh itu dan membuatnya bertahan lama, Anda harus bergerak ke level pengaruh yang lebih tinggi, yaitu menjadi mentor sebagai pembimbing. 

Membimbing berarti mencurahkan hidup Anda bagi orang lain dan membantu mereka memaksimalkan potensi. Saat Anda memberi diri, membantu mereka mengatasi rintangan kehidupan, serta mengajari mereka cara bertumbuh secara pribadi dan profesional, Anda membantu mereka mencapai level kehidupan yang lebih tinggi. Anda benar-benar dapat memantik perubahan dalam hidup mereka. 

4 cara melakukan mentoring :

- Mengembangkan orang lain
- Mengarahkan mereka melewati masalah hidup
- Menjalin hubungan dengan mereka pada tingkat yang lebih mendalam
- Memampukan mereka meraih potensi tertinggi


LEVEL 4 : MELIPATGANDAKAN

Level pengaruh tertinggi yang dapat Anda miliki dalam hidup orang lain adalah melipatgandakan, Anda membantu orang yang Anda pengaruhi untuk menjadi pribadi yang menanamkan pengaruh positif dalam hidup orang lain dan meneruskan bimbingan yang telah mereka terima dari Anda, lengkap dengan apa yang mereka pelajari dan kumpulkan sendiri. 

Banyak orang hidup dalam modus memelihara. Tujuan utama mereka adalah mencegah kemunduran, bukan berusaha membuat kemajuan. Jika ingin berdampak, Anda harus berjuang menjadi pribadi yang melipatgandakan. 

Hanya segelintir orang yang berhasil sampai ke level pengaruh keempat, tetapi semua orang bisa melakukannya. Yang kita perlukan hanyalah sikap tidak mementingkan diri sendiri, murah hati, dan mau berkomitmen. Juga perlu waktu. Untuk bergerak menaiki level pengaruh terhadap sesama, Anda harus lebih memperhatikan setiap individu. 

Mencetak pemimpin adalah tugas terpenting dari setiap pribadi berpengaruh. Jika ingin menanamkan pengaruh, Anda harus berkomitmen untuk mengembangkan pemimpin. 


10 CARA MENJADI PRIBADI BERPENGARUH

Menjadi pribadi berpengaruh artinya :

1. Menjadi teladan integritas bagi semua orang yang berhubungan dengan Anda. 
2. Membimbing orang-orang dalam hidup Anda agar mereka merasa dihargai. 
3. Menunjukkan keyakinan pada mereka agar mereka percaya diri. 
4. Mendengarkan mereka agar Anda bisa membangun hubungan dengan mereka. 
5. Memahami mereka agar Anda dapat membantu mereka mewujudkan impian. 
6. Mengembangkan mereka demi meningkatkan potensi mereka. 
7. Mengarahkan mereka melewati kesulitan hidup sampai mereka bisa melakukannya sendiri. 
8. Menjalin hubungan dengan mereka agar Anda dapat mengangkat mereka ke tingkat yang lebih tinggi. 
9. Memampukan mereka memenuhi tujuan mereka diciptakan. 
10. Mencetak pemimpin agar pengaruh Anda terus bertumbuh melalui orang lain.

Jumat, 02 Oktober 2020

Hubungan HRD dan Organization Development (OD) Dalam Perusahaan

Organization Development Framework




artikel oleh :

Ryan Martian
- HR and Business Consultant
- Talents Mapping Practitioner


Hubungan OD dan HRD-Dalam beberapa kasus dan sesi consulting, para pemilik bisnis mengeluhkan timnya yang tidak kompeten dan berkinerja rendah kemudian meminta saya dan tim untuk membenahi system SDMnya agar kinerja organisasi berkembang dan bertumbuh, entah dengan meminta pelatihan, melakukan coaching bahkan melakukan penataan system SDMnya.

Namun sering kali saya temukan justru akar permasalahannya bukan kepada timnya atau bagian manajemen SDM yang bermasalah, melainkan dari para pemilik bisnis dan para pemimpin bisnis itulah masalah sesungguhnya, mereka tidak memiili konsep bisnis yang jelas dan visi yang kuat atas bisnisnya. Kok bisa? Mari kita diskusikan…

Tim itu datang setelah organisasi ada, Manajemen Sumberdaya Manusia itu datang ketika bisnis mulai kompleks, para SDM hanya mengikuti aturan dan budaya yang sudah terbentuk terlebih dahulu, sehebat apapun manusianya jika organisasinya tidak menunjukkan iklim serta system kerja yang mendukung performa maka bisa dipastikan sumberdaya sehebat apapun lambat laun akan menurun performanya hingga akhirnya menyamaan diri dengan lingkungan kerjanya.

Sementara aturan dan budaya organisasi sangat dipengaruhi oleh seberapa kuat para pemimpin dan para pendiri organisasi menancapkan pondasi yang kuat dalam bisnisnya, bagaimana para pemimpin menancapkan filosopi bisnisnya, memekikkan visi dan misinya, dan konsisten dengan budaya kerjanya, karena tanpa organisasi yang memiliki identitas yang jelas akan sulit juga membentuk tim kerja yang jelas.

Oleh karena itu, sebelum Anda menununtuk para manajer HR bekerja kerasa mengelola SDM anda dan sebelum anda meminta SDM menunjukkan kinerja terbaik, maka pertanyaan saya adalah sudahkah Anda memiliki strategi dan filosofi organisasi yang kuat? Sudahkan Anda menentukan kemana Anda mengarahkan bisnis Anda? Seperti apakah karakteristik dan budaya organisasi Anda? Apa nilai organisasi yang Anda perjuangkan? jika sudah maka tidaklah sulit mengarahkan para manajer menyusun HR System yang terbaik bagi organisasi Anda.

Karena menurut saya, tidak ada HR Manajemen yang tangguh tanpa Organizational Development yang utuh.


Teman-teman yang ingin belajar ilmu HRD, Manajemen SDM dan Pengembangan Diri secara GRATIS.

Semua sudah saya rangkumkan spesial untuk Anda di link ini 

Halaman Facebook 

Channel Telegram (GABUNG bersama lebih dari 1.000 HRD dan Sahabat Pembelajar lainnya)


Berminat belajar HRM 4.0 bersama Pak Ryan Martian.

Hubungi :

Ringga Arie ,S.E
HRM Learning Partner
WhatsApp 085852316552

Selasa, 02 April 2019

PEOPLE DEVELOPMENT - PERAN KETIGA TRAINER SEBAGAI RESPOND LEARNER NEEDS (PART 4)



Artikel Oleh :

Coach N. Kuswandi
- People Development Expert


Peran ketiga yang akan dimainkan oleh seorang trainer adalah responds learning needs - merespon kebutuhannya belajar trainee. Ingat bahwa training yang dilakukan bertujuan untuk menutup gap kompetensi trainee. Artinya fokus training sudah memang seharusnya berada pada trainee.

Lebih jauh lagi, saat peserta training adalah orang dewasa, keinginan mereka dalam belajar adalah segera memanfaatkan hasil belajarnya. Sehingga proses belajarnya senantiasa berorientasi pada realitas yang dihadapi trainee. Peran trainer disini adalah merespons kebutuhan tersebut.

Cara belajar orang dewasa ini tercermin dari kisah trilluner bernama Gabe Newell. Pria ini dikenal sebagai co-founder dari pengembang hub video game. Siapa yang tidak kenal dengan counter-strike? game dengan grafis pas-pasan namun tidak lekang oleh waktu. Game ini dibuat oleh Valve Corp. Pada saat kuliah di Harvard University, Gabe memutuskan untuk drop-out karena dia menganggap tidak mempelajari apapun selama kuliah. Di awal karir, ia bergabung dengan Microsoft, dan belajar segala sesuatu tentang pembuatan perangkat lunak. Setelah 13 tahun bekerja sambil belajar di Microsoft, ia memutuskan untuk keluar dan mendirikan Valve. Sekarang, kekayaan Gabe Newell mencapai USD 1,26 miliar atau Rp16,38 triliun (kurs 1 USD = Rp13.000).

Bayangkan saja seandainya, trainee kita adalah orang dewasa seperti Gabe. Dia masuk ke dalam kelas training, dan tidak mendapatkan apa yang dia inginkan. Peristiwa berikutnya yang akan terjadi adalah dia keluar dari kelas atau bertahan di dalam kelas dan menjadi pengacau selama training.







Ustadz Abdul Somad (UAS) yang menjadi salah satu pembicara kondang saat ini juga mempraktikkan prinsip orang dewasa ingin segera memanfaatkan hasil belajarnya. Alih-alih berkhotbah selama berjam-jam yang bisa jadi khotbah yang disampaikan tidak menjadi kebutuhan belajar para santrinya, UAS lebih banyak memberi ruang untuk tanya jawab. Metode yang digunakan UAS ini secara langsung merespons kebutuhan belajar santrinya. Sehingga santri langsung bisa mempraktikkan jawaban yang diterima dari UAS.

Model seperti ini juga mulai diterapkan secara nasional di Firlandia. Negara yang diakui sebagai negara dengan pendidikan terbaik di dunia. Di tahun 2017 kemarin, Firlandia mentransformasi sistem pendidikanya secara radikal. Jika matematika dianggap sebagai core ilmu di seluruh negara, tidak lagi di Firlandia. Semenjak tahun 2017, Firlandia tidak lagi menjadikan matematika sebagai mata pelajaran wajib bagi pelajar, karena tidak dianggap bahwa semua orang membutuhkan matematika. Masih ingat pada saat SMA mempelajar vector, x+y dan seterusnya yang ternyata tidak aplikatif untuk beberapa orang.

Lebih jauh lagi, Firlandia kemudian mencustome mata pelajaran ke dalam kebutuhan para siswanya. Bukan sekolah yang menyediakan "menu" pembelajaran, namun siswa lah yang memilih "masakan' seperti apa. Sehingga seluruh siswa langsung merasa bahwa kebutuhan belajarnya di respon. Sampai saat ini, hanya di Firlandia yang secara masif bisa mengapllikasikan cara belajar orang dewasa

Bagaimana mengaplikasikan peran trainer ini ke dalam trainer competencies?


Sumber :
*Buku People Development Handbook - Mengungkap Rahasia Para Professional Trainer Mendelivery High Impact Learning Program

Sabtu, 02 Februari 2019

PEOPLE DEVELOPMENT - PERAN KEDUA TRAINER SEBAGAI PROMOTE BEHAVIOR CHANGE (PART 3)



Artikel Oleh :

Coach N. Kuswandi
- People Development Expert
- Penulis Buku Coaching Handbook - Pembahasan Coach Competency dari Internasional Coach Federation
:diamond_shape_with_a_dot_in


Wave of change, ocean of opportunity - badai perubahan, lautan kesempatan, begitulah quote yang sangat relevan untuk era VUCA (volatil, uncertainly, complex, ambigu). Perubahan tersebut juga terasa di dunia Learning and Development. Deloit, sebagai multinational consultant bahkan menggambarkan secara masif, lima perubahan besar learning and development dalam 17 tahun terakhir (era e-learning, era talent management, era continuous learning, era digital learning dan sebentar lagi akan muncul artificial learning). Artinya tiap 3.5 tahun sekali era learning telah berubah. Kalau diibaratkan "belum selesai belajar dan implementasi satu evolusi learning and development sudah berpindah ke evolusi berikutnya".


Ada yang memandang perubahan ini sebagai gelombang ancaman, namun ada juga yang memandang bahwa perubahan tersebut adalah lautan peluang. Dan orang-orang yang berselancar dalam lautan peluang dengan "embrace" tantangan kemudian disebut sebagai paradoc navigator.



Dalam kontek learning and development para paradoc navigator tersebut punya fleksibilitas untuk terus belajar, tak terkecuali membawa paradoc paradigma mendelivery learning and development. Kemarin saya telah share bahwa satu peran seorang facilitator adalah create safe learning environment. Maka dikesempatan kali ini saya ingin share tentang paradigma peran kedua seorang facilitator *Promote Behavior Change. Peran ini menjadi kritikal, karena saat facilitator mampu memainkan peran ini maka tujuan learning pada level ketiga (behavior change) dan level ke empat (business result) akan tercapai.



Ingat bahwa ilmu itu ibarat pohon yang kuat, dan buahnya adalah menjalankan ilmu tadi. Mengajarkan trainee kita tentang ilmu membuat mereka menjadi pohon yang kuat. Dan pohon yang kuat akan lebih bermanfaat saat berbuah. Bayangkan saja bagaimana merasa ruginya orang yang membiayai pendidikan trainee namun perilaku trainee tidak berubah. Disinilah peran facilitator yang promote behavior change menjadi penting.












Sekarang bagaimana melakukan peran tersebut? Peran ini sebenarnya sangat erat kaitannya dengan ilmu influencing. Dan Anda bisa mengaplikasikan aneka pendekatan influencing yang telah dibuktikan dengan riset yang mumpuni. Dua tokoh psikologi yang memiliki pengakuan terhadap hal tersebut adalah Garry Yukl dan Cialdini. Saya pernah membahas salah satu taktik Garry Yukl pada buku saya yang berjudul *Coaching Handbook* (satu satunya buku yang membahas coaching competency dari International Coach Federation), maka izinkan kali ini saya berbagi tentang salah satu jurus promote behavior change yang diperkenalkan oleh Cialdini. Dari riset yang dia lakukan, Cialdini menemukan enam cara menginfluence orang yaitu otoritas, rasa suka (perhatikan bahwa cara ini bisa dilakukan dengan mengimplementasikan create safe learning environment), timbal balik, kelangkaan, konsistensi dan bukti sosial. Ingat kita punya peran mempengaruhi, namun kesiapan perubahan perilaku bukanlah keputusan facilitator, namun seorang trainee.



Bahkan Nabi Muhammad SAW sendiri sebagai tokoh yang paling berpengaruh di dunia tidak bisa mempengaruhi pamannya banyak membantunya, Abu Tholib. Hingga Allah SWT menurunkan ayat khusus terkait hal tersebut,



"Innaka la tahdi man ahbabta, walakinnallaha yahdi mai yasha."



"Sesungguhnya kau takkan dapat memberi hidayah pada orang yang kau sayangi, tetapi Allahlah yang memberi hidayah kepada sesiapa sahaja yang Dia kehendaki" (QS Al Qoshos 56-57)



Inilah yang juga menyebabkan peran seorang facilitator disebut sebagai Promote behavior Change. Karena peran kita sebagai seorang facilitator adalah promosi bukan change.



Sumber :

*Buku People Development Handbook - Mengungkap Rahasia Para Professional Trainer Mendelivery High Impact Learning Program

Selasa, 15 Januari 2019

PEOPLE DEVELOPMENT - PERAN TRAINER SEBAGAI CREATE SAFE LEARNING ENVIRONMENT (PART 2)



Artikel oleh :

Coach N. Kuswandi
- People Development Expert
- Penulis Buku Coaching Handbook - Pembahasan Coach Competency dari Internasional Coach Federation


Apa peran seorang trainer? Ini adalah pertanyaan sejuta dolar. Karena dengan menemukan dan memahami jawaban pertanyaan ini akan membuat peran Anda sebagai seorang trainer menjadi lebih efektif. Jawaban pertanyaan ini bisa ditemukan dari hasil akhir yang diharapkan dari sebuah proses learning and development.

Dan tujuan itu telah dipolakan dengan begitu cantik oleh seorang pakar learning and development bernama Kirkpatrick. Beliau memperkenalkan empat tujuan yang kemudian disebut sebagai empat level evaluasi Kirkpatrick. Level pertama adalah reaction, trainee bereaksi positif terhadap training yang diberikan. Level kedua adalah knowledge, setelah training trainee mendapatkan pengetahuan atau skill baru. Level ketiga adalah behavior change, ada perilaku baru sebagai dampak pengetahuan dan ketrampilan yang dipelajari. Dan level terakhir adalah result, perubahan perilaku tersebut membawa dampak positif terhadap performance.

Dari empat evaluasi tersebut, jelaslah bahwa seorang trainer memiliki tiga peran utama. Peran pertama adalah create safe learning environment. Peran kedua adalah responds learner needs. Dan peran terakhir adalah promote behavior change.


Peran pertama, create safe learning environment sangat erat kaitannya dengan tujuan training level pertama, reaction. Perlu digarisbawahi bahwa safe learning environment tidak hanya berhubungan dengan keamanan fisik, namun juga keamanan psikologis. Tentunya Anda sering dengar dengan istilah "Emosi positif belajar efektif". Keamanan psikologis berhubungan dengan menciptakan suasana belajar yang mampu menumbuhkan emosi positif.





GRATIS Buku Digital People Development Evolution - Rahasia Evolusi Trainer dalam Merancang Pelatihan Terbaik oleh Novianta Kuswandi







Saya ingin lebih dalam membahas tentang keamanan psikologis. Istilah "Keamanan Psikologis" digunakan oleh Amy Edmondson pada tahun 1996 di The Journal of Applied Behavior Science. Kemudian diadopsi oleh team People Analytics Google dalam project Aristotle. Para ahli perilaku karyawan Google tersebut ingin memetakan pola perilaku yang membuat 180 team memiliki indikator performance dan hubungan antar anggota team.


Pada awalnya mereka kebingungan mencari polanya. Sampai mereka menyadari bahwa mereka menggunakan indikator yang salah. Indikator awal yang mereka gunakan adalah siapa orang-orang yang akan jadi bagian team yang baik, dari latar belakang apa, kepribadiannya seperti apa. Namun pola yang mereka temukan tidak saling berhubungan. "Siapa" yang berada dalam team tidak menjadi hal yang penting untuk menciptakan team yang baik. Hingga akhirnya, team people analytics mengukur dari indikator yang berbeda, yaitu "bagaimana". Mereka menemukan bahwa norma norma kelompok berperan kritis dalam pembentukan pengalaman emosional dan performance team.


Penemuan ini memunculkan pertanyaan baru, "norma seperti apa?" Dan pertanyaan itu yang dijawab Edmondson pada tahun 1999. Norma tersebut adalah "Keamanan Psikologis" - sebuah perasaan yakin tidak akan dipermalukan, ditolak, ataupun dihukum oleh anggota team yang lain karena angkat bicara.



Mari kita bawa dalam kontek training. Positif reaction sebagai salah satu tujuan training tidak akan tercapai kalau ada peserta yang merupakan anggota team pembelajaran merasa dipermalukan, ditolak, ataupun dihukum. Benar bahwa tempat yang bagus, makanan yang enak, slide yang bagus akan memunculkan positive reaction. Namun semua itu akan hilang seketika saat keamanan psikologis tidak tercipta. Sehingga dari awal training berlangsung, sudah menjadi peran wajib seorang trainer untuk Create Safe Learning Environment.


Sumber :
*Buku People Development Handbook - Mengungkap Rahasia Para Professional Trainer Mendelivery High Impact Learning Program

PEOPLE DEVELOPMENT - TECHNIUM, Lahirnya Kingdom of Life Ketujuh (Part 1)




Artikel Oleh :

Coach N. Kuswandi
- People Development Expert
- Penulis Buku Coaching Handbook - Pembahasan Coach Competency dari Internasional Coach Federation



Saya ingin mengajak Anda kembali kemasa lalu dan mengingat salah satu pelajaran favorit saya, Biologi. Hirarki taksonomi telah membagi makhluk hidup ke dalam enam kingdom of life, yaitu animale, plantae, protisca, eubacteria, archabacteria dan fungi. Namun, akhir akhir ini mulai berkembang organisme baru. Dia memiliki terlalu banyak bentuk untuk bisa disebut sebagai spesies. Secara taksonomi, organisme ini juga terlalu luas untuk disebut sebagai ordo. Bahkan, physum atau divisi sekalipun. Organisme ini hanya bisa dilabeli sebagai kingdom baru.



Bayangkan saja, organisme yang tidak masuk ke dalam ke enam kingdom of life yang sudah ada. Organisme ini bukan hewan, bukan tanaman, bukan organisme bersel satu, bukan bakteri, dan bukan jamur. Organisme ini adalah makhluk baru yang keberadaannya baru saja muncul setelah lahirnya industri 4.0 (industri 1.0 ditandai dengan lahirnya mesin uap, industri 2.0 ditandai dengan ditemukannya listrik, industri 3.0 ditandai dengan ditemukannya komputer, dan industri 4.0 ditandai dengan ditemukannya internet)


Organisme baru ini pada saat ini memang secara populasi belum secerdas manusia. Bahkan populasinya juga belum sebanyak manusia. Jika dibandingkan antara populasi manusia dengan organisme baru ini, ibarat Paus dengan ikan Mamora. Pendatang baru ini terlihat sepele, namun jika dilihat kebelakang mulai tahun 2000, ikan Mamora tersebut diam diam telah berkembang. Bahkan organisme baru tersebut sudah berkembang pesat dalam dua dekade terakhir.



Sampai saat ini, para ahli mengidentifikasi bahwa organisme baru ini terus menerus memperluas. Dan yang lebih penting lagi, dia ber evolusi lebih cepat dari pada manusia. Sehingga para ahli memprediksi beberapa dekade ke depan, organisme ini menyerap manusia.


Organisme ini bukanlah layaknya film Alience dimana manusia diserap dan dijadikan inkubator hidup bagi spesies yang lebih dominan. Dalam presentadinya di TedX, Organisme ini oleh Kevin Kelly, seorang penulis budaya digital disebut sebagai Technium. Organisme sekelas kingdom animale, plantae, protista, eubacteria, archaebacteria dan fungi. Technium adalah kingdom ke tujuh dengan spesies anorganik.

Kita akan melihat proses evolusi langka bernama bifurcating - satu spesies terbagi menjadi dua spesies baru - tapi terkadang, pada kasus-kasus langka, jika kedua apesies tidak dapat bertahan satu sama lain, prosesnya terjadi terbalik, alih alih satu spesies menjadi dua namun dua spesies tadi menjadi satu. Dan itulah yang terjadi antara manusia dengan organisme baru ini. Pada dekade terakhir ini manusia telah menjadi spesies hibrid, perpaduan biologi dan techniun.


Apa sebenarnya technium sendiri?


Technium adalah apa yang sering kali kita dengar sebagai artificial inteligence. Jika Anda pernah melihat film Terminator, itulah artificial inteligence. Atau jika Anda pernah melihat Iron Man yang dibantu oleh JARVIS dalam mengoperasikan baju tempurnya, JARVIS adalah artifical inteligence. Dan pada dekade ini, artificial intelligence bukan lagi sekedar film fiksi ilmiah. Artificial intelligence sudah menjadi organisme baru yang mulai berkembang dalam dekade ini.

Jika Anda punya produk smartphone dari Apple (iPhone), artifial intelligence bukanlah barang langka. Sirri begitulah nama artificial intelligence yang tertanam di iPhone. Artificial intelligence ini telah membantu banyak pengguna iPhone dalam mengoperasikan dan berselancar di dunia maya.

Bagi yang memiliki android, Anda juga bisa mencari aplikasi artificial intelligence di play store. Salah satu yang saya temukan bernama Wysa. Aplikasi berbasis artificial intelligence ini membantu penggunanya untuk meningkatkan kecerdasan emosional. Atau lebih jauh lagi, ada artificial intelligence bernama Sopia yang diakui oleh Dubai sebagai warga negara. Faktanya Sopia adalah artificial intelligence pertama yang memiliki kewarganegaraan.



Organisme ini juga akan memberi dampak pada evolusi berikutnya dari learning and development. Tidak heran jika multinational consultant Deloite menamakan evolusi kelima dari learning and development sebagai artificial learning.


Era evolusi digital learning telah berhasil memangkas sumber pengetahuan dari "jarak enam derajat" menjadi jarak "empat derajat" antar manusia, artinya setiap orang di dunia ini saling terhubung dengan selisih tidak lebih dari empat orang. Maka pada era evolusi artificial learning, derajatnya akan jadi nol.

Sumber :
*Buku People Development Handbook - Mengungkap Rahasia Para Professional Trainer Mendelivery High Impact Learning Program



Sabtu, 19 Mei 2018

Evolusi HR dan Berbenah Diri

“The more you engage with customers the clearer things become and the easier it is to determine what you should be doing.” (John Russell)


HR TERUS BERBENAH sesuai tuntutan zaman. Paling tidak dalam separoh abad yang lalu, HR sudah mengalami 4 tahap evolusi. Ini terjadi karena tuntutan perubahaan yang harus ditanggapi oleh bisnis secara serius, yang juga berdampak pada perubahan pendekatan dari berbagai termasuk HR.
Karena itu para praktisi HR hendaknya terus mengupdate dirinya untuk bisa terus eksis dan memberikan peran yang masih terus dianggap dan diterima oleh bisnis. Foto berikut ini memperlihatkan gaya Dave Ulrich dalam sesi yang diselenggarakan di Jakarta baru-baru ini, yang ngakunya bukan ngajarin tapi mengajak peserta untuk “belajar bersama.”

Waves of HR dari Dave Ulrich
Dalam perjalanan HR sejak dini, atau setidaknya dalam separoh abad terakhir, telah terjadi 4 (empat) Gelombang Evolusi HR (sumber buku Dave Ulrich, “HR from Outside In”):
  1. Gelombang Pertama: HR Administration, di mana fokus utamanya adalah administrasi dan transaksi ketenaga-kerjaan. Walaupun fokus utama adalah administrasi, tapi HR juga menjalankan training, talent planning dan lain-lain.
  2. Gelombang Kedua: Functional Expertise, yakni fokus pada design innovative HR Practices di fungsi utama seperti: sourcing, compensation & benefit, learning, communication, dan lain-lain. Pada tahap ini, banyak perusahaan melihat kebutuhan untuk membangun training center untuk program training, sebagai komitmen untuk pengembangan para leaders. Efektivitas pekerjaan HR di tahap ini terletak pada inovasi dan integrasi berbagai praktek HR. Sementara itu, kredibilitas HR terletak pada kemampuan mengimplementasi berbagai HR best practices.
  3. Gelombang Ketiga: HR Strategy. Pada tahap ini fokus utamanya adalah pada menghubungkan individu dan HR Practices dengan sukses bisnis, melalui Strategic HR. Benang merah dibuat untuk menghubungkan HR dengan strategi atau tujuan bisnis. Bahkan dalam talent management misalnya, akan mencakup kontribusi talent terhadap Culture dan Leadership. Keterkaitan fokus HR dengan bisnis ini akan menjadikan tugas HR efektif. Dan kredibilitas HR terletak pada kemampuannya untuk membangun dialog tentang Strategi Bisnis dan HR.
  4. Gelombang Keempat: HR from Outside In. Praktek HR pada tahap ini merupakan tanggapan terhadap kondisi bisnis di sekitarnya. Jadi melakukan HR alignment strategy dalam konteks bisnis dan para stakeholders.
Walaupun suatu perusahaan sudah berada pada tahap 4, tiga keutamaan di tahap sebelumnya hendaknya terus dilakukan secara prima: Administrasi HR mengalir lancar; praktek HR hendaknya innovative dan integrated, dan HR hendaknya mampu menerjemahkan aspirasi strategic ke dalam kegiatan HR.




Menjaga Balanced 6 Paradox
Seberapa pun rapihnya konsep yang disusun, Dave mengetengahkan berbagai tantangan dalam implementasinya, terutama bila kita ingin mempertimbangkan keseimbangan dari berbagai aspek seperti diagram di bawah ini. Menjaga keseimbangan ini akan turut menentukan bentuk response dari HR. (Sumber buku Dave Ulrich, “HR from Outside In”)





Pertanyaan tentang seberapa besar porsi fokus pada bisnis atau people, administrasi atau strategy, eksternal dan internal focus, dan lain-lain. Tidak ada statistic yang memperlihatkan kesempurnaan. Namun demikian, ilustrasi di atas, yang akan menjadi bahan refleksi, akan terus membuat kita menganalisa, di mana fokus kita seharusnya pada saat tertentu berdasarkan kepentingan bisnis yang dirancang berdasarkan tuntutan dari berbagai stakehoders.

Values Perusahaan untuk Siapa??
Selama ini kita mengenal prinsip pada waktu menyusun Values, berdasarkan pertanyaan:  “What we want to be known for, by external world?,” itu sudah bagus tapi belum cukup. Dave Ulrich menyarankan agar kita membawa Values tersebut dan tanyakan kepada external stakeholders, misalnya kepada 2-3 key customers:
  • Are these values you want us to have?
  • What do we do to show you that we live those values?
  • When you see that we really live those values, do you buy more from us??
Pendekatan seperti ini memberikan kita kesempatan untuk mendiskusikan Values atau aspek HR lainnya dari perspektif customer, atau juga stakeholders luar lainnya. Untuk bisa melakukan ini semua, HR Professionalsperlu bertanya untuk refleksi pada diri sendiri:
  • Apakah saya sudah melihat Organisasi kami dengan menggunakan kacamata customers, investors, suppliers, regulators dan external stakeholders lainnya??
  • Apakah saya sadar akan kondisi bisnis umumnya di sekitar kita, yang bisa memberikan dampak pada industri dan organisasi kita?
  • Apakah saya meluangkan waktu bersama external stakeholders?
  • Apakah saya juga melakukan alignment, antara tugas-tugas HR dengan harapan external stakeholders?
External Customer Menginterview Calon GM
Mengakhiri sesi Dave Ulrich sore itu, sempat dihadirkan Richard Joost Lino, Direktur Utama Pelindo II. Beliau membagi pengalaman mereka dalam men-drive pengelolaan SDM. Secara gamblang beliau mengutarakan pendapatnya bahwa transformasi di bidang HR hanya bisa dilakukan dengan berhasil kalau driver utamanya adalah orang nomor satu di Perusahaan itu.
Karena pada level itu dapat ditarik garis keterkaitan akan inisiatif tersebut dengan berbagai tuntutan perubahan bisnis karena tuntutan berbagai stakeholders. Salah satu yang dikisahkan adalah proses rekruitmen top leaders. Pelindo barusan menunjuk GM. Mereka meminta dua key customers untuk mewawancarai calon yang diidentifikasi oleh tim Perusahaan, untuk memberikan pandangan apakah profile calon ini sesuai dengan pandangan key customers tentang seorang GM Pelindo. Ini merupakan salah satu contoh nyata praktek “HR from OUTSIDE In”.

“Quality in a service or product is not what you put into it. It is what the client or customer gets out of it.” (Peter Drucker)


Senin, 16 April 2018

PROMO Buku People Development Handbook - Mengungkap Rahasia Para Professional Trainer Mendelivery High Impact Learning Program



Informasi Penting Sebelum Investasi


Saya merekomendasikan sebuah buku yang secara comprehensive membahas tuntas dan mendalam dunia People Development yang sangat cocok bagi Anda yang ingin menjadi professional trainer atau memperdalam lagi keilmuan Anda di bidang People Development.

Jika Anda ikut kelas Training To Trainer dengan tujuan jadi Professional Trainer tapi hanya diajarin Public Speaking, Sebaiknya cukup baca buku ini saja, karena ilmu public speaking bagi professional trainer hanya 1/4 ilmu dari seorang professional trainer.

Bagi Anda yang mendelivery training hanya berfokus pada membuat kelas yang lebih menyenangkan dan meriah saja. Sebaiknya Anda membaca buku ini karena di dalamnya akan memberikan Anda sebuah insight baru berupa level delivery terbaik yang perlu Anda ketahui dan kuasai.

Bahkan jika ingin mengetahui seberapa efektif delivery training yang Anda bawakan maka Buku ini akan mengungkapkan semua rahasia professional trainer dalam mendelivery high impact learning program dengan sangat efektif.

Semua solusinya bisa Anda dapatkan dengan berinvestasi PROMO Buku People Development Handbook - Mengungkap Rahasia Para Professional Trainer Mendelivery High Impact Learning Program

Spesial untuk 50 Pembeli Tercepat, Saya tambahkan BONUS Ebook Premium - Good Talent Management Practices (Bahasa Indonesia) yang juga merupakan karya terbaik dari Coach N. Kuswandi


Silahkan Hubungi :

Ringga Arie Suryadi
WhatsApp 085852316552



Testimoni Customer Buku People Development Handbook














Mau Presentasi Sehebat Trainer ?

Mau Presentasi Sehebat Trainer ?
Info Detail KLIK Gambar

Leadership & People Development

Practical Coaching Konseling

Practical Coaching Konseling
Gabung KLIK Gambar atau Hubungi WhatsApp 085852316552

Corporate Trainer & Public Speaker

Certified HUMAN DEVELOPMENT