Diberdayakan oleh Blogger.
Dapatkan GRATIS EBOOK tentang Manajemen Sumber Daya Manusia, HRD, Human Capital, Leadership, Public Speaking & Ilmu Pengembangan Diri

Bergabunglah dengan Ribuan Sahabat HRD & Leader Pembelajar lainnya :

Grup Telegram Komunitas Young HRD Indonesia
Youtube Channel Komunitas Young HRD Indonesia
Halaman Facebook Komunitas HRD Indonesia



Tampilkan postingan dengan label Ibadah Kerja. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Ibadah Kerja. Tampilkan semua postingan

Senin, 12 Februari 2018

Mengapa Saya Bekerja ?



Ada orang yang bekerja penuh semangat, ada yang biasa saja dan ada yang bermalas-malasan. Apabila sekali-kali malas bekerja itu manusiawi namun apabila terlalu sering itu pertanda ada yang perlu diperbaiki. Nah, salah satu yang bisa menjaga semangat kerja kita adalah temukanlah alasan, mengapa saya bekerja?

Jawaban dari dari pertanyaan “mengapa saya bekerja?” sangat beragam, dari angka-angka hingga makna kehidupan. Semakin banyak Anda menemukan jawaban maka semangat Anda untuk bekerja akan semakin terjaga. Anda perlu merinci apa alasan Anda bekerja, baik dari alasan financial, keluaga, passion, value hingga alasan spiritual.

Alasan finansial bisa berupa “angsuran rumah/mobil yang belum tuntas, cicilan yang perlu dibayar, hutang kantor yang belum tertutupi, silakan ditambah lagi, he….he….he…. Semua itu bisa dijadikan alasan, mengapa saya bekerja?

Alasan keluarga juga bisa menyemangati Anda bekerja. Misalnya “saya ingin sekali memberangkatkan orang tua ke tanah suci, saya ingin menyekolahkan anak saya di sekolah yang terbaik, saya ingin semua kebutuhan keluarga saya tercukupi dengan kualitas tertinggi, dan alasan lainnya bisa Anda cari. Anda tetap pergi bekerja, demi keluarga.

Ada juga orang yang bekerja karena menjalankan passionnya, ia bekerja karena ia mencintai pekerjaannya, ia enjoy dan hanyut karena ia sangat mencintai apa yang ia kerjakan. Orang-orang seperti ini sering menganggap bekerja itu menjalankan hobi. Mengasyikkan, menjalankan sesuatu yang menyenangkan sekaligus mendapatkan bayaran. Menjalankan hobi, dapat rezeki atau gaji.

Ada juga yang bekerja dengan alasan value. Bekerja bukanlah mencari nafkah tetapi ia sedang berkontribusi untuk negeri. Apa bentuk kontribusinya? Menyediakan lapangan pekerjaan, meningkatkan pendapatan negara, menolong banyak tulang punggung keluarga memperoleh penghasilan yang layak. Dengan tetap bekerja, ia merasakan hidup yang lebih berarti.
Alasan lain yang bisa digunakan untuk memperkuat semangat Anda bekerja adalah bekerja itu ibadah. Di dalam agama yang saya anut yaitu Islam, ada sebuah hadits yang menerangkan bahwa Ada dosa yang tidak bisa dihapus dengan sholat, puasa, zekat dan haji sekalipun. Dosa itu hanya bisa dihapus dengan mencari nafkah penghidupan (bekerja/bisnis).

Bekerja bukan hanya mendapat bayaran tetapi juga ganjaran. Bekerja tidak hanya mendapat rupiah tetapi juga bernilai ibadah. Bekerja bukan hanya mendapat gaji tetapi mengumpulkan bekal untuk pulang ke kampung yang abadi.

Semakin banyak Anda menemukan alasan “mengapa saya bekerja?” semakin nikmat Anda menjalani profesi Anda. So, segera temukan banyak jawaban dari pertanyaan “mengapa saya bekerja?”

Sumber :

Jumat, 12 Desember 2014

Kerja adalah Ibadah



 

Islam adalah agama Tauhid. Yakni kepercayaan tentang Keesaan Allah. Berkeliling di sekitar Tauhid aneka kesatuan yang lahir dari keyakinan itu, yang bila ia dilepaskan darinya, maka  terlepas pula ia dari ajaran Tauhid. Itu tak ubahnya dengan matahari yang berkeliling di sekitarnya serta berada di bawah daya tariknya planet-planet tata surya, yang bila terlepas dari daya tarik itu, planet tersebut akan hancur berantakan.
Kesatuan dunia dan akhirat adalah salah satu aspek dari Tauhid dalam arti apa yang dilakukan di dunia itulah yang ditemukan di akhirat. Karena itu tidaklah tepat menyatakan bahwa ada amal duniawi dan ada pula amal ukhrawi, karena keduanya merupakan satu mata uang dengan dua wajah. Ibadah dan kerjapun sesungguhnya harus merupakan satu kesatuan. Karena itu pula, pekerjaan apapun yang dilakukan oleh penganut Tauhid, dapat menjadi ibadah yang dia peroleh ganjarannya bukan saja di dunia tetapi juga bahkan lebih-lebih di akhirat.
Kerja didefinisikan sebagai penggunaan daya. Manusia secara garis besar dianugerahi Allah empat daya pokok, yaitu Daya Fisik, yang menghasilkan kegiatan fisik dan keterampilan, Daya pikir yang mendorong  pemiliknya berpikir dan menghasilkan ilmu pengetahuan, Daya Kalbu yang menjadikan manusia mampu berkhayal, mengekspresikan keindahan serta beriman dan merasakan serta berhubungan dengan Allah Sang Pencipta, dan Daya Hidup, yang menghasilkan semangat juang, kemampuan menghadapi tantangan serta menanggulangi kesulitan. Penggunaan salah satu dari daya-daya tersebut – betapapun sederhananya – melahirkan kerja, atau amal. Anda tidak dapat hidup tanpa menggunakan – paling sedikit salah satu dari daya itu. Untuk melangkah, anda memerlukan daya fisik, paling tidak guna menghadapi daya  tarik bumi. Karena itu, kerja adalah keniscayaan. Selanjutnya karena tujuan penciptaan manusia adalah menjadikan seluruh aktivitasnya bermula dan berakhir dengan  ibadah kepada Allah (Q.S.  51: 56), maka seluruh penggunaan dayanya harus merupakan ibadah kepada-Nya.
Ibadah bukan sekadar ketaatan dan ketundukan, tetapi ia adalah satu bentuk ketundukan   akibat adanya rasa keagungan dalam jiwa seseorang terhadap siapa yang kepadanya ia mengabdi. Seorang pengabdi tidak mencapai hakikat pengabdian kecuali jika  ia tidak menganggap apa yang berada dalam genggaman tangannya sebagai miliknya tetapi milik siapa yang kepadanya dia mengabdi. Segala usahanyapun hanya berkisar pada mengindahkan apa yang diperintahkan kepadanya dan menjauhi apa yang dilarang,  serta tidak memastikan sesuatu untuk dia laksanakan kecuali mengaitkannya dengan izin dan restu siapa yang kepadanya dia mengabdi.
Ibadah adalah kerja dan kerja adalah ibadah tetapi perlu diingat bahwa  kerja atau amal yang dituntut-Nya bukan asal kerja, tetapi kerja yang shaleh atau amal shaleh. Shaleh adalah yang sesuatu yang bermanfaat  lagi memenuhi syarat-syarat dan nilai-nilainya. 
Menggunakan salah satu dari daya-daya disebut di atas selama shaleh dan dengan motivasi yang tulus mengikuti tuntunan Allah, maka apa yang dikerjakan itu telah menjadi ibadah. Karena itu Anda dapat beribadah kapan dan di manapun. Nabi Muhammad saw. menegaskan salah satu keistimewaan ajaran Tauhid adalah “Allah menjadikan persada bumi ini sebagai masjid tempat sujud (patuh kepada-Nya) dan sarana penyuciaan”.  Anda tidak perlu berkata seperti yang konon diucapkan oleh Filsuf  Jerman Immanuel Kant, “Saya terpaksa menghenikan penelitian ilmiah agar menyediakan tempat dalam hatiku untuk percaya  atau beribadah”.  Yang diajarkan oleh Al-Qur’an untuk diucapkan sekaligus dipahami dan diamalkan  adalah : “Sesungguhnya shalatku, ibadah (murni)ku, hidupku dan matiku hanyalah demi karena Allah, Tuhan semesta alam“  (Q.S. 6: 162).
Mengapa hanya demi karena  Allah? Sebab kepada-Nya saja berakhir segala sesuatu (Q.S. 53: 62). Karena itu seorang muslim memulai amalnya dengan Basmalah yakni menyadari bahwa itu tidak dapat wujud tanpa bantuan Allah dan mengakhirnya dengan Hamdalah yakni dengan bersyukur kepada-Nya. Dengan demikian Allah adalah pangkalan tempat kita bertolak dan pelabuhan tempat kita bersauh.
Prinsip ini sejalan dengan apa yang dikemukakan oleh  Ilmuwan Amerika  Steven Covey dalam bukunya The Seven Habits of Highly Effective People, yang mengemukakan bahwa salah satu kunci  keberhasilan yaitu   memulai dengan  akhir   yang terdapat dalam pikiran.                  

Di sisi lain, kitab suci Al-Qur’an tidak memberi peluang bagi seorang muslim untuk berleha-leha dalam hidup ini. Maka apabila engkau telah berada di dalam keluangan (setelah tadinya  engkau sibuk),   maka  (bersungguh-sungguhlah bekerja)  sampai engkau letih, atau tegakkanlah (persoalan baru) sehingga menjadi nyata”. Demikian pesan Q.S. 94: 7. Karena itu waktu harus dihargai dengan mengisi dan memanfatkannya. Ali Ibnu Abi Thalib r.a. mengingatkan bahwa “Rezeki yang tidak diperoleh  hari  ini, masih  dapat  diharapkan perolehannya lebih banyak esok  hari, tetapi waktu yang berlalu hari ini, tidak mungkin kembali esok”. Demikian. Wa Allah A’lam. [M. Quraish Shihab]

sumber : http://quraishshihab.com/kerja-adalah-ibadah/




Rabu, 04 Juni 2014

TEOLOGI KERJA DALAM ISLAM


Seperti kita ketahui mestinya ajaran Islam dilihat secara utuh, tidak saja dilihat dari segi ritual. Tapi dilihat dari berbagai aspek, dari segi sosial, budaya dan sebagainya. Karena saudara mempersiapkan diri sebagai Tenaga Pengembangan Masyarakat, sehingga harus tahu persis posisi Saudara, maka lebih baik jika anda ketahui, manusia secara essensial tidak melihat sesuatu yang abstrak terdiri dari 5 komponen yaitu jasad, akal, intuisi /perasaan (ذوق), nafsu dan ruh.

Nafsu terdiri dari sua macam yaitu nafsu baik dan jelek. Dari sini Nampak jelas bahwa nafsu itu tidak selamanya jelek. Sementara itu, kadang-kadang kita jumpai orang salah menerapkan cara disertai perasaan, atau sebaliknya hanya perasaan saja tanpa disertai akal. Padahal berfikir yang sehat itu apa bila akal, perasaan dan nafsu berjalan sekaligus. Berfikir tanpa menggunakan nafsu akan menjadikan orang lemah, sedangkan berfikir tanpa menggunakan akal akan menjadi emosi.

Dari terkumpulnya 5 (lima) komponen pokok diatas, manusia mempunyai dua potensi atau kemampuan fisik/kerja untuk melakukan sesuatu hal, dan yang kedua kemampuan berfikir. Dengan kata lain kemampuan fisik (قوة عملية), kemampuan berfikir (قوة عملة). Maka atas dasar kemampuan yang dimiliki hingga manusia harus melaksanakan ketentuan-ketentuan dari Al-Khaling, yaitu melaksanakan kewajiban-kewajiban, menjauhi larangannya serta melakukan anjuran-anjurannya. Berangkat dari itu, ada ulama yang berpendapat bahwa ajaran Islam itu dibagi dua ajaran pokok yaitu Aqidah dan Syariah. Dalam aqidah kita banyak menggunakan (قوة نظرية), kurang sekali menggunakan Quwwah Nadloriyahnya. Dalam aqidah kita banyak menggunakan (قوة نظرية). Jadi iman seorang tergantung sejauh mana dia menggunakan Quwwah Nadloriyahnya. Syariah isinya adalah amal, sehingga diperlukan Quwwah amaliyahnya atau kemampuan fisik. Dan mari kita kaitkan syariah ini dengan kehidupan dunia. Seperti yang sudah kita maklumi bersama, bahwa syariah adalah aturan yang diberikan Allah buat manusia (makhluk yang berakal) untuk melakukan komunikasi dengan beberapa hal.

a)      Hubungan manusia dengan Allah sebagai hubungan makhluk dengan Kholiq-nya, disinilah kita mengenal ibadah yang bersifat individual, (محضة شحصية), ibadah yang manfaatnya hanya kembali pada pribadinya sendiri, dan ibadah yang bersifat sosial. Ibadah sosial ini manfaatnya menitikberatkan pada kepentingan umum. Dengan ini jelas bahwa ibdah individual lebih baik daripada sosial, menurut Qoidah ushul fiqh: (العيادة المتعدية افضل من عبادة القاهرة) Akan tetapi jangan diartikan lebih baik kita beribadah yang (متعدية) saja, ibadah yang qosiroh kita tinggalkan. Apabila terjadi ta’arudl antara ibadah (متعدية dan قاهرة) lebih mementingkan (متعدية) dari yang (قاهرة) sepanjang yang (قاهرة) tidak berupa fardlu Ain.

b)      Hubungan manusia dengan manusia. Hubungan manusia ini baik muslim dengan muslim maupun muslim dengan non muslim, sehingga terjaga eksistensinya masing-masing. Dan karena pemahaman dan penglihatan Islam yang masih kurang bahkan sepotong-potong, maka seorang muslim melihat non muslim dengan a priori.

c)      Hubungan manusia dengan alam. Pada prinsipnya kita bebas berfikir tentang alam, juga manfaatnya dan bagaimana kita menggunakan alam. Namun ada beberapa hal yang perlu kita perhatikan, di samping kita boleh memanfaatkan alam ini, kita harus melakukan sesuatu yang tidak berlebihan, harus mengeluarkan shodaqoh dan bersyukur kepada Allah. Untuk menambah referensi tentang keterangan di atas dan ini tidak a priori.

1. هُوَ الَّذِي خَلَقَ لَكُمْ مَا فِي الْأَرْضِ جَمِيعًا

 2. أَلَمْ تَرَوْا أَنَّ اللَّهَ سَخَّرَ لَكُمْ مَا فِي السَّمَاوَاتِ وَمَا فِي الْأَرْضِ وَأَسْبَغَ عَلَيْكُمْ نِعَمَهُ ظَاهِرَةً وَبَاطِنَةً
3. وَهُوَ الَّذِي سَخَّرَ الْبَحْرَ لِتَأْكُلُوا مِنْهُ لَحْمًا طَرِيًّا وَتَسْتَخْرِجُوا مِنْهُ حِلْيَةً تَلْبَسُونَهَا
d)     Hubungan manusia dengan hidup dan kehidupan sendiri, dari hal ini nampak jelas perlunya ikhtiar atau usaha dalam mengisi hidup dan kehidupan ini. Apalagi kita sebagai calon tenaga pengembangan masyarakat perlu menyadari beberapa hubungan tersebut serta menjaga keseimbangan, sehingga tidak timpang. Kita tahu posisi dan tahu apa yang harus kita lakukan, kapan melakukan dan bagaimana melakukannya.

Lalu apa semangat kerja itu? semangat kerja adalah kemauan tinggi yang ditindaklanjuti dengan upaya dan pencurahan kekuatan untuk mencapai tujuan, serta menyiapkan faktor pendukung dan factor penunjang secara maksimal, para fuqoha menyebut hal itu dengan istilah ‘ijtihad’. Ahli tasawuf berpepatah. إن الله عبادا إذا ارادوا اراد
Namun kita perlu menyadari bahwa tidak semua kehendak hamba dituruti Allah, sebab musabab antara ikhtiar dan hasil yang dituju/dicapai.

Orang Arab berpepatah : أن ترد الماء بماء أكيس

Yang terakhir ini memberi petunjuk kepada kita bahwa lebih bijaksana kalau kita datang setempat air, masih tetap membawa air. Kita tidak boleh menggantungkan pada keadaan yang ada, tidak boleh tamak mengandalkan pemberian/hak orang lain jangan terlalu optimis.jadi semangat kerja ini harus ada kemauan yang tinggi yang ditindak lanjuti dengan persiapan dan sarana pendukungnya serta dibarengi dengan semangat yang tinggi. Pada umumnya orang memiliki semangat karena didukung oleh berbagai faktor, yaitu:

a)      Adanya tujuan yang dicapai secara jelas
b)      Dorongan yang cukup tinggi (motivasi)
c)      Dan meyakini akan keberhasilan atau kebenaran tujuan

untuk semangat keras/tinggi dibutuhkan dan dilengkapi beberapa hal, antara lain:
a)      Keberanian (شجاعة), keberanian ini ada kalanya keberanian fisik dan keberanian mental, disebut juga (شجاعة مادية) dan (شجاعة ادبية). Keberanian fisik ini berarti dia mempunyai ketahanan bela diri di saat ada yang merintanginya. Akan tetapi keberanian mental ini yang sangat penting bagi kader-kader tenaga pengembangan masyarakat punya keberanian fisik, akan tetapi tidak punya keberanian mental. A pa artinya?
b)      Daya kreatif (قوة الادبية) artinya kita tidak usah didorong-dorong oleh pihak luar, akan tetapi harus mempunyai kreatif utuh dalam memecahkan masalah. Lebih jauh lagi kita dapat mampu memilih satu alternatif jalan yang lebih baik.
c)      Kebebasan berfikir kreatif, artinya kreatifitas itu akan muncul apabila seseorang itu mempunyai kebebasan berfikir (yaitu tanpa dibatasi dan ditekan-tekan).
Kalau tiga hal ini sudah terkumpul dalam pribadi seseorang, maka ia akan menjadi dinamis, tanpa menunggu perintah atau didorong. Kreasinya berkembang, bahkan memiliki ketangguhan kerja, ulet, tegas, tanpa ragu-ragu. Sebagai referrensi, kenapa kita harus kreatif, dinamis dan sebagainya?
Allah telah berfirman  ;فَاسْتَبِقُوا الْخَيْرَاتِ
Diharapkan kita untuk berlomba-lomba melakukan (الْخَـيْرَاتِ), kalimat ini berarti umnum, baik berupa ibadah-ibadah ritual maupun bentuk ibadah sosial, bisa juga diartikan ibadah yang lain.

Islam Memerintah Kerja
Dari semua keterangan diatas memberi petunjuk kepada kita bahwa Islam menuntut kepada pemeluknya untuk kerja melakukan sesuatu. Sebagai referensi terhadap hal yang baik secara eksplisit maupun inplisit menyinggung kita diperintah untuk bekerja dalam artian (لطلب الرزق) dalam pengertian yang mengarah/luas antara lain:

1.    هُوَ الَّذِي جَعَلَ لَكُمُ الْأَرْضَ ذَلُولًا فَامْشُوا فِي مَنَاكِبِهَا وَكُلُوا مِنْ رِزْقِهِ ۖ وَإِلَيْهِ النُّشُورُ

2.  فَإِذَا قُضِيَتِ الصَّلَاةُ فَانْتَشِرُوا فِي الْأَرْضِ وَابْتَغُوا مِنْ فَضْلِ اللَّهِ

Lebih jelasnya kita habis sholat Jum’at, kita diperintahkan bekerja baik lewat tijaroh, ziro’ah baik lewat muamalah yang lain tapi dalam rangka mencapai anugerah Allah berupa rizki.

التمسوا الرزق في خبايا الأرض

Yaitu kita diperintahkan untuk menggali yang ada dalam bumi untuk mendapatkan rizqi. Dari sini kita diperintah untuk membuat industri, perusahaan, unit usaha untuk fuqoro masakin.
إذا صليتم الفجر فلاتناموا عن طلب ارزاقكم
Dari referensi diatas ini berarti Islam melarang para pemeluknya untuk menjaga pengangguran. Sebagai referensi pada pokok bahasan Islam melarang menganggur. Beberapa ayat al-Qur’an dan hadits di bawah ini:
  1. 1.      أشد الناس عذابا يوم القيامة المكفيُّ الفارغ
  2. وقال ابن عباس رضي الله عنه  : قدم قوم على النبي صلّى الله عليه وسلم فقالوا إن فلانا يصوم النهار ويقوم الليل ويكثر الذكر، فقال: أيكم كان يكفي طعامه وشرابه، فقالوا: كلنا فقال كلكم خير منه
  3. 3.      لا يقعد أحدكم عن طلب الرزق ويقول اللهم ارزقني، وقد علم أن السماء لا تمطر ذهبا ولا فضة
Dari beberapa referensi di atas bisa disimpulkan bahwa Islam adalah agama yang menuntut bagi pemeluknya untuk beribadah dan bekerja demi kemaslahatan. Itu semua adalah tugas manusia dalam esensi manusia itu sendiri.

Manusia sebagai Khalifah

Diluar esensinya manusia dijadikan Khalifah dibumi. Kita perhatikan:
وَهُوَ الَّذِي جَعَلَكُمْ خَلَائِفَ الْأَرْضِ وَرَفَعَ بَعْضَكُمْ فَوْقَ بَعْضٍ دَرَجَاتٍ

Maka dengan jelas bahwa kita ini sebagai Khalifah di muka bumi. Sebagai Khalifah Allah diatas bumi, manusia memiliki tiga karomah/kemuliaan:
1. Kemuliaan Tobi’I (kemuliaan ini secara esensinya sudah ada sejak lahir). Sebagai referensi   وَلَقَدْ كَرَّمْنَا بَنِي آدَمَ
2. Kemuliaan kemenangan atau kekuasaan, sebagai referensi وَلِلَّهِ الْعِزَّةُ وَلِرَسُولِهِ وَلِلْمُؤْمِنِينَ
3. Kemuliaan Prestasi  وَلِكُلٍّ دَرَجَاتٌ مِمَّا عَمِلُو

Karomah yang ketiga ini bagi seseorang akan mencapai kemuliaan apabila seseorang itu mempunyai prestasi amal. Dan masing-masing ini sebagai kemuliaan manusia Kholifatullah fil ‘ardi. Kalau manusia sebagai Khalifah yang diberi 3 karomah, lalu apa tugasnya? Tugasnya ada dua macam:
a.  Ibadatullah, sebagai referensi tugas manusia harus beribadah seperti halnya firman Allah di bawah ini.

خَلَقْتُ الْجِنَّ وَالْإِنْسَ إِلَّا لِيَعْبُدُونِ

ini bisa berarti ibadah yang dalam bentuk Qosiroh, atau bentuk ijtima’iyah maupun dalam bentuk ibadah sosial (تعبدية)
b. Membangun (عمادة الأرض) seperti yang telah difirmankan Allah dalam Al-Qur’an (هو أنشأكم من الأرض واستعمركم فيها). Berarti Allah menuntut kita untuk membangun bumi ini disamping Ibadahtullah.
Kalau pembangunan itu sebagai tanggungjawab kita semua, maka tanggungjawabnya penuh kepada manusia tanpa pandang bulu.

Bahwa diantara nikmat Allah pada kalian adalah, masyarakat bahkan alam itu membutuhkan kalian. Apa alasannya?

Karena semua tuntutan hidup, kesehatan, pengetahuan, potensi, keamanan, kemakmuran, keadilan dll. Itu tidak bisa lepas sekejap matapun dari ketergantungan pada kekuatan dan kemampuan manusia baik fisik maupun akal dan keterampilan. Masing-masing bertanggungjawab sesuai dengan kadar potensi dan daya gunanya untuk “imaratul ardli”

Pada kesimpulannya Islam itu memerintahkan kita untuk bersemangat kerja membangun. Tetapi karena kita seorang muslim, harus ingat semua itu, tidak bisa lepas dari Qudratullah dan Irodatullah.

Kita bekerja jangan terlalu menggantungkan pada ikhtiarnya. Sebab bagaimana cita-cita seseorang tetap tidak bisa melampau Qudrah dan Iradah Allah.
Majalah Tebuireng No.4 Agustus 1986M

Senin, 26 Mei 2014

Bukan Hanya Pemimpin Yang Amanah, Tapi Juga Sistem Kepemimpinan Yang Amanah



Sesungguhnya Allah Ta’ala memberikan wewenang kepada penguasa untuk menghilangkan sesuatu yang tidak bisa dihilangkan oleh Al Qur’an – Utsman bin Affan

Islam berbeda dengan agama-agama yang lain yang pernah diturunkan oleh Allah Swt, karena Islam diturunkan sempurna dan menyeluruh, termasuk dalam hal megatur pemimpin dan sistem kepemimpinan.

Karena mengusung kesatuan kepemimpinan politik dan spiritual inilah maka Islam dapat tersebar dengan luasan yang fenomenal dalam tempo yang relatif singkat dibandingkan peradaban pendahulunya seperti Persia dan Romawi.

Karena itu pula Michael H. Hart dalam bukunya “The 100 – a Ranking of Most Influential People in History”, menilai Nabi Muhammad dengan kalimat “he was the only man in history who was supremely succesfull on both the religious and secular level“, dengan menuliskan dua alasan:
“Muhammad, however, was responsible for both the theology of Islam and its main ethical and moral principles”
“Furthermore, Muhammad (unlike Jesus) was a secular as well as a religious leader. In fact, as the driving force behind the Arabs conquest, he may well rank as the most influential political leaders of all time”

Pemimpin di dalam Islam sangatlah penting, bahkan diwajibkan dalam perkara agama. Rasul bersabda “Tidak halal bagi tiga orang yang berada di sebuah tempat di muka bumi ini melainkan mereka menunjuk seorang pemimpin di antara mereka.” (HR Ahmad)

Bila dalam safar saja diwajibkan adanya pemimpin, apalagi perkara yang lebih besar yaitu urusan ummat seluruhnya. Namun di dalam Islam, Allah tidak hanya mewajibkan pada kaum Muslim untuk sekedar memiliki pemimpin yang amanah, namun juga sistem yang amanah dimana pemimpin itu memimpin dengannya.

Rasul sendiri tatkala memimpin kaum Muslim bertindak sebagai kepala negara yang amanah, dengan mengatur sistem ekonomi, politik, pendidikan, peradilan dan keamanan dalam dan luar negeri, termasuk mengirim surat pada Kaisar Romawi dan Kisra Persia pada waktu itu, dan kesemuanya berdasarkan sistem syariah Islam.

إِنَّ اللَّهَ يَأْمُرُكُمْ أَنْ تُؤَدُّوا الأمَانَاتِ إِلَى أَهْلِهَا
وَإِذَا حَكَمْتُمْ بَيْنَ النَّاسِ أَنْ تَحْكُمُوا بِالْعَدْلِ إِنَّ اللَّهَ نِعِمَّا يَعِظُكُمْ بِهِ إِنَّ اللَّهَ كَانَ سَمِيعًا بَصِيرًا
يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا أَطِيعُوا اللَّهَ وَأَطِيعُوا الرَّسُولَ وَأُولِي الأمْرِ مِنْكُمْ
فَإِنْ تَنَازَعْتُمْ فِي شَيْءٍ فَرُدُّوهُ إِلَى اللَّهِ وَالرَّسُولِ إِنْ كُنْتُمْ تُؤْمِنُونَ بِاللَّهِ وَالْيَوْمِ الآخِرِ ذَلِكَ خَيْرٌ وَأَحْسَنُ تَأْوِيلا

Sesungguhnya Allah menyuruh kamu menyampaikan amanah kepada yang berhak menerimanya, dan (menyuruh kamu) apabila menetapkan hukum di antara manusia supaya kamu menetapkan dengan adil. Sesungguhnya Allah memberi pengajaran yang sebaik-baiknya kepadamu. Sesungguhnya Allah adalah Maha Mendengar lagi Maha Melihat.

Hai orang-orang yang beriman, taatilah Allah dan taatilah Rasul (Nya), dan ulil amri di antara kamu. Kemudian jika kamu berlainan pendapat tentang sesuatu, maka kembalikanlah ia kepada Allah (Al Qur’an) dan Rasul (sunnahnya), jika kamu benar-benar beriman kepada Allah dan hari kemudian. Yang demikian itu lebih utama (bagimu) dan lebih baik akibatnya (QS an-Nisaa [4]: 58-59)

Kedua ayat ini menunjukkan kewajiban yang sangat besar bagi kaum muslim untuk memiliki pemimpin dan kepemimpinan yang dengannya bisa diterapkan amanat hukum Allah dengan adil, dan menjadi penjamin atas dipakainya al-Qur’an dan as-Sunnah ketika ada perselisihan diantara kaum mukmin
Rasulullah pun telah memberikan batasan, bagaimana penguasa dan kepemimpinan ini diatur dalam Islam melalui lisannya yang mulia:

“كَانَتْ بَنُو إِسْرَائِيلَ تَسُوسُهُمْ الْأَنْبِيَاءُ كُلَّمَا هَلَكَ نَبِيٌّ خَلَفَهُ نَبِيٌّ وَإِنَّهُ لَا نَبِيَّ بَعْدِي وَسَيَكُونُ خُلَفَاءُ فَيَكْثُرُونَ”
قَالُوا “فَمَا تَأْمُرُنَا” قَالَ “فُوا بِبَيْعَةِ الْأَوَّلِ فَالْأَوَّلِ. أَعْطُوهُمْ حَقَّهُمْ فَإِنَّ اللَّهَ سَائِلُهُمْ عَمَّا اسْتَرْعَاهُمْ” روه بخاري و مسلم

Dahulu Bani Israil selalu dipimpin dan dipelihara urusannya oleh para nabi. Setiap nabi meninggal, digantikan oleh nabi berikutnya. Sesungguhnya tidak ada nabi sesudahku. Tetapi nanti akan ada banyak khalifah. Para Sahabat bertanya, “Apa yang engkau perintahkan kepada kami?” Beliau menjawab, “Penuhilah baiat yang pertama, dan yang pertama saja. Berikanlah hak mereka, sesungguhnya Allah akan memintai pertanggungjawaban terhadap urusan yang dibebankan kepada mereka” (HR Bukhari dan Muslim)

Demikianlah Rasulullah berpesan, bahwa yang kelak akan melanjutkan kepemimpinan dan pemeliharaan atas ummat adalah pemimpin yang disebut Khalifah, dan Khalifah inilah yang akan menjaga amanah untuk menerapkan sistem amanah berdasar Al-Qur’an dan As-Sunnah sebagaimana diperintahkan dalam QS An-Nisaa [4]: 59

Maka setelah wafatnya Rasulullah, Abu Bakar menjabat sebagai Khalifah kaum Muslim, dilanjutkan dengan Umar bin Khaththab, Utsman bin Affan dan Ali bin Abu Thalib, keempatnya dikenal sebagai Khulafaur Rasyidin, Para Khalifah yang ditunjuki Allah. Dan sistem kepemimpinan ini disebut dengan nama Khilafah.

Keberadaan Khalifah sebagai pemimpin yang satu bagi kaum Muslim dan Khilafah sebagai sistem kepemimpinan yang satu bagi kaum Muslim inilah yang selalu dijaga oleh kaum Muslim semenjak wafatnya Rasulullah sampai pada tahun 1924 saat Khilafah diruntuhkan di Turki dan Khalifah diturunkan dan diasingkan.

Dari dalil-dalil diatas kita lalu memahami bahwa seluruh kaum Muslim diwajibkan dalam Islam untuk memiliki pemimpin yang amanah, selain itu Islam juga mewajibkan adanya sistem yang amanah.
Dalam Islam, belum cukup ketika kaum Muslim memilih pemimpin yang amanah, namun dipilih untuk menjalankan sistem yang tidak amanah seperti sekulerisme, liberalisme dan demokrasi seperti saat ini. Tapi pemimpin Islam diwajibkan untuk menjalankan sistem amanah juga, yaitu yang berdasarkan Al-Qur’an dan As-Sunnah.

Karenanya memilih pemimpin yang amanah tapi tidak sistem kepemimpinan yang amanah, hanya menjadikan pemimpin tersebut bermaksiat dalam sistem yang tidak amanah ini, dan merupakan sikap tak benar karena memilih dan memilah hukum Allah, setengah-setengah dalam ketaatan.

Seharusnya kaum Muslim menyadarkan dan mengingatkan satu sama lain bahwa sumber permasalahan besar ummat bukan hanya tentang pemimpin yang amanah, namun lebih karena ditinggalkannya hukum Allah dan Rasul-Nya, Al-Qur’an dan As-Sunnah sebagai sistem kepemimpinan.

Jadi Islam mewajibkan bukan hanya pemimpin yang amanah, namun juga sistem kepemimpinan yang amanah.



buku-buku @felixsiauw bisa ke Gramedia atau pesan online di alfatihbookstore.com atau ke pages Facebook alfatihbookstore

 

Mau Presentasi Sehebat Trainer ?

Mau Presentasi Sehebat Trainer ?
Info Detail KLIK Gambar

Leadership & People Development

Practical Coaching Konseling

Practical Coaching Konseling
Gabung KLIK Gambar atau Hubungi WhatsApp 085852316552

Corporate Trainer & Public Speaker

Certified HUMAN DEVELOPMENT