Diberdayakan oleh Blogger.
Dapatkan GRATIS EBOOK tentang Manajemen Sumber Daya Manusia, HRD, Human Capital, Leadership, Public Speaking & Ilmu Pengembangan Diri

Bergabunglah dengan Ribuan Sahabat HRD & Leader Pembelajar lainnya :

Grup Telegram Komunitas Young HRD Indonesia
Youtube Channel Komunitas Young HRD Indonesia
Halaman Facebook Komunitas HRD Indonesia



Tampilkan postingan dengan label Human Capital. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Human Capital. Tampilkan semua postingan

Kamis, 03 Februari 2022

GRATIS Kelas Online Human Resource Management

 

 

GRATIS Kelas Online HUMAN DEVELOPMENT LEADER persembahan Komunitas Young HRD Indonesia bersama Master Trainer, Coach Helmi Wandara









- The Heart of Leadership - Memimpin dengan Hati https://youtu.be/-iKFx3hAPM8
- Happiness Leadership - Rahasia Kesuksesan Para Pemimpin Dunia https://youtu.be/2o7klBwtvt0 - Pentingnya Peran Leader sebagai Coach https://youtu.be/XBpHGqWCnZU - Mengembangkan Karyawan dengan Pelatihan (People Development with Training) https://youtu.be/kb3DSur2mPc - Kenapa Pelatihan Anda Gagal (Why The Training Failed) https://youtu.be/9P5mmqC20K0 - NLP for Training & Coaching https://youtu.be/NhJ4f_5MXdU - Happy Counselor - Teknik Konseling Efektif di Tempat Kerja https://youtu.be/xIEKRP6Xsog - Organization Development - Agile Talent Strategy https://youtu.be/w-Oe_9yHSw8


Untuk mendapat GRATIS E-Certificate Human Development Leader silahkan ditonton dulu video-videonya dan Jangan Lupa Subscribe, Like & Share sebanyak-banyaknya.

Setelah itu kirim gambar screenshot sebagai bukti Anda telah menyelesaikan menonton Video-Videonya dan pastikan sudah SUBSCRIBE & LIKE. Kirim ke Nomer WA Tim Young HRD Indonesia http://wa.me/6285852316552 untuk kami kirimkan GRATIS Sertifikat Digital.

Sabtu, 19 Mei 2018

Evolusi HR dan Berbenah Diri

“The more you engage with customers the clearer things become and the easier it is to determine what you should be doing.” (John Russell)


HR TERUS BERBENAH sesuai tuntutan zaman. Paling tidak dalam separoh abad yang lalu, HR sudah mengalami 4 tahap evolusi. Ini terjadi karena tuntutan perubahaan yang harus ditanggapi oleh bisnis secara serius, yang juga berdampak pada perubahan pendekatan dari berbagai termasuk HR.
Karena itu para praktisi HR hendaknya terus mengupdate dirinya untuk bisa terus eksis dan memberikan peran yang masih terus dianggap dan diterima oleh bisnis. Foto berikut ini memperlihatkan gaya Dave Ulrich dalam sesi yang diselenggarakan di Jakarta baru-baru ini, yang ngakunya bukan ngajarin tapi mengajak peserta untuk “belajar bersama.”

Waves of HR dari Dave Ulrich
Dalam perjalanan HR sejak dini, atau setidaknya dalam separoh abad terakhir, telah terjadi 4 (empat) Gelombang Evolusi HR (sumber buku Dave Ulrich, “HR from Outside In”):
  1. Gelombang Pertama: HR Administration, di mana fokus utamanya adalah administrasi dan transaksi ketenaga-kerjaan. Walaupun fokus utama adalah administrasi, tapi HR juga menjalankan training, talent planning dan lain-lain.
  2. Gelombang Kedua: Functional Expertise, yakni fokus pada design innovative HR Practices di fungsi utama seperti: sourcing, compensation & benefit, learning, communication, dan lain-lain. Pada tahap ini, banyak perusahaan melihat kebutuhan untuk membangun training center untuk program training, sebagai komitmen untuk pengembangan para leaders. Efektivitas pekerjaan HR di tahap ini terletak pada inovasi dan integrasi berbagai praktek HR. Sementara itu, kredibilitas HR terletak pada kemampuan mengimplementasi berbagai HR best practices.
  3. Gelombang Ketiga: HR Strategy. Pada tahap ini fokus utamanya adalah pada menghubungkan individu dan HR Practices dengan sukses bisnis, melalui Strategic HR. Benang merah dibuat untuk menghubungkan HR dengan strategi atau tujuan bisnis. Bahkan dalam talent management misalnya, akan mencakup kontribusi talent terhadap Culture dan Leadership. Keterkaitan fokus HR dengan bisnis ini akan menjadikan tugas HR efektif. Dan kredibilitas HR terletak pada kemampuannya untuk membangun dialog tentang Strategi Bisnis dan HR.
  4. Gelombang Keempat: HR from Outside In. Praktek HR pada tahap ini merupakan tanggapan terhadap kondisi bisnis di sekitarnya. Jadi melakukan HR alignment strategy dalam konteks bisnis dan para stakeholders.
Walaupun suatu perusahaan sudah berada pada tahap 4, tiga keutamaan di tahap sebelumnya hendaknya terus dilakukan secara prima: Administrasi HR mengalir lancar; praktek HR hendaknya innovative dan integrated, dan HR hendaknya mampu menerjemahkan aspirasi strategic ke dalam kegiatan HR.




Menjaga Balanced 6 Paradox
Seberapa pun rapihnya konsep yang disusun, Dave mengetengahkan berbagai tantangan dalam implementasinya, terutama bila kita ingin mempertimbangkan keseimbangan dari berbagai aspek seperti diagram di bawah ini. Menjaga keseimbangan ini akan turut menentukan bentuk response dari HR. (Sumber buku Dave Ulrich, “HR from Outside In”)





Pertanyaan tentang seberapa besar porsi fokus pada bisnis atau people, administrasi atau strategy, eksternal dan internal focus, dan lain-lain. Tidak ada statistic yang memperlihatkan kesempurnaan. Namun demikian, ilustrasi di atas, yang akan menjadi bahan refleksi, akan terus membuat kita menganalisa, di mana fokus kita seharusnya pada saat tertentu berdasarkan kepentingan bisnis yang dirancang berdasarkan tuntutan dari berbagai stakehoders.

Values Perusahaan untuk Siapa??
Selama ini kita mengenal prinsip pada waktu menyusun Values, berdasarkan pertanyaan:  “What we want to be known for, by external world?,” itu sudah bagus tapi belum cukup. Dave Ulrich menyarankan agar kita membawa Values tersebut dan tanyakan kepada external stakeholders, misalnya kepada 2-3 key customers:
  • Are these values you want us to have?
  • What do we do to show you that we live those values?
  • When you see that we really live those values, do you buy more from us??
Pendekatan seperti ini memberikan kita kesempatan untuk mendiskusikan Values atau aspek HR lainnya dari perspektif customer, atau juga stakeholders luar lainnya. Untuk bisa melakukan ini semua, HR Professionalsperlu bertanya untuk refleksi pada diri sendiri:
  • Apakah saya sudah melihat Organisasi kami dengan menggunakan kacamata customers, investors, suppliers, regulators dan external stakeholders lainnya??
  • Apakah saya sadar akan kondisi bisnis umumnya di sekitar kita, yang bisa memberikan dampak pada industri dan organisasi kita?
  • Apakah saya meluangkan waktu bersama external stakeholders?
  • Apakah saya juga melakukan alignment, antara tugas-tugas HR dengan harapan external stakeholders?
External Customer Menginterview Calon GM
Mengakhiri sesi Dave Ulrich sore itu, sempat dihadirkan Richard Joost Lino, Direktur Utama Pelindo II. Beliau membagi pengalaman mereka dalam men-drive pengelolaan SDM. Secara gamblang beliau mengutarakan pendapatnya bahwa transformasi di bidang HR hanya bisa dilakukan dengan berhasil kalau driver utamanya adalah orang nomor satu di Perusahaan itu.
Karena pada level itu dapat ditarik garis keterkaitan akan inisiatif tersebut dengan berbagai tuntutan perubahan bisnis karena tuntutan berbagai stakeholders. Salah satu yang dikisahkan adalah proses rekruitmen top leaders. Pelindo barusan menunjuk GM. Mereka meminta dua key customers untuk mewawancarai calon yang diidentifikasi oleh tim Perusahaan, untuk memberikan pandangan apakah profile calon ini sesuai dengan pandangan key customers tentang seorang GM Pelindo. Ini merupakan salah satu contoh nyata praktek “HR from OUTSIDE In”.

“Quality in a service or product is not what you put into it. It is what the client or customer gets out of it.” (Peter Drucker)


Jumat, 26 Februari 2016

Konsep HR from OUTSIDE IN


“The bar has been raised for HR; HR must create and deliver VALUE in real business term.” (Dave Ulrich)

MENARIK GAYA PENYELENGGARA meramu acara seputar presentasi utama Guru HR, Prof. Dave Ulrich. Diawali dengan sharing dari Pak Agung Adiprasetyo, CEO Kompas Gramedia dan diakhiri dengan sharing Pak Richard Joost Lino, Dirut PT Pelindo II. Keduanya berbagi tentang peran CEO dalam men-drive People Agenda di perusahaan masing-masing.
Berbagai contoh dipaparkan Pak Agung tentang perubahan di pasar yang berdampak pada bisnis. Bahkan dalam situasi di mana perusahaan berada di kondisi puncak sebagai juara, posisinya sangat rentan karena posisi itu diincar banyak perusahaan pesaing.
Jadi kalau kita terlalu sibuk urusan di dalam, lupa mengamati situasi di luar, maka posisi kita akan mudah digoyang. Dalam konteks ini, Pak Agung menggaris-bawahi:
“Paling berbahaya kalau HR-nya tidak up to date. Mereka harus memahami bisnis: bisnis model, proses, practices, agar bisa tercipta winning concept, winning system dan pada akhirnya tercipta innovative winning team.”
Tell Us About Your Business
Mengajak seorang professional HR berbincang tentang HR di perusahaannya, kita tidak memulai dari berbincang tentang berbagai tantangan dalam rekrutmen, training, talent management, performance management, compensation & benefit, industrial relations, dan lain-lain. Jangan kaget kalau perbincangan diawali dengan pertanyaan, “Ceritakan sedikit tentang bisnis.”
Dan akan lebih seru lagi kalau pertanyaannya mengarah ke harapan dari berbagai stakeholder di luar sana: apa harapan customers, investors, komunitas, partner, di samping harapan internal stakeholders seperti line managers dan karyawan. Seorang HR tidak harus menguasai semua aspek business, tapi cukup pengetahuan bisnisnya untuk membantu dia memberikan nilai tambah dalam menjalankan fungsi HR.
Ilustrasi berikut ini mungkin bisa menggambarkan berbagai stakeholder dimaksud.

HR From the  OUTSIDE IN



Prof. Dave Ulrich tidak pernah berhenti melakukan survey dan menyajikan berbagai pemikiran baru, terutama dalam membantu HR professionals untuk bisa memberikan Value terhadap bisnis. Dalam mendesign berbagai program HR di Perusahaan, Next Generation of HR perlu paham akan stakeholders luar.
Apa harapan mereka yang perlu dipertimbangkan dalam design program dimaksud. Ini yang disebut: HR from OUTSIDE IN. Beberapa contoh sederhana yang disampaikan dalam konteks HR from OUTSIDE IN:
  • Apakah kita paham tentang peta ketenaga-kerjaan dunia dan memiliki kemampuan untuk menjaring karyawan dari manca negara untuk mempermudah mobility, terutama dengan hadirnya AFTA sebentar lagi?
  • Apakah kita dipandang oleh Customer sebagai Perusahaan pilihan pencari kerja?
  • Apakah kita melibatkan Customer dalam merancang training, melibatkan mereka untuk menghadiri atau memberikan training?
  • Apakah kita mempunyai kemampuan tanggap secara cepat terhadap berbagai perubahan kesempatan/ancaman bisnis?
  • Apakah standar “effective performance” kita sesuai dengan harapan Customer?
  • Apakah ada sarana komunikasi yang memungkinkan karyawan terhubung dengan customers?
  • Apakah perkembangan teknologi dimanfaatkan optimal demi efisiensi, bina hubungan, social networking dengan berbagai communities?
  • Apakah perubahan Social mendapat perhatian serius, misalnya soal diversity, working out of office, urbanisasi?
  • Apakah di perusahaan dibangun “sense of social responsibility” dalam membangun community reputation?
  • Apakah kita memiliki/menciptakan “Leadership Brand” di mana setiap langkah pimpinan perusahaan dikaitkan dengan harapan external stakeholders?
Dan masih banyak lagi contoh pertanyaan yang bisa kita ajukan sebagai tes keterkaitan setiap langkah kita dengan harapan stakeholder luar.

Pengelolaan SDM: Tanggung Jawab Siapa?
Sebelum kita membahas lebih jauh tentang peran HR dalam gelombang baru ini, kita perlu jelas, pengelolaan SDM itu sebetulnya perannya siapa??
Yang paling Utama adalah: Semua line managers adalah OWNER dari setiap individu di unitnya. Mereka berperan dari waktu ke waktu untuk membuat setiap karyawan terhubung dalam sebuah jaringan utuh, saling mendukung, saling mengisi dalam memberikan kontribusi terbaiknya sesuai tugas masing-masing.
Line managers adalah pengambilan keputusan terakhir tentang berbagai aspek dari karyawan di unitnya. Mereka bertanggung jawab penuh (accountable) untuk pengembangan dari karyawannya dan juga terciptanya lingkungan yang membuat timnya betah bekerja dalam jangka waktu lama.
Di lain pihak HR Professionals adalah arsitek dari berbagai program HR, menjadi fasilitator dalam implementasi program tersebut, serta menjadi coach agar program itu terlaksana secara konsisten di seluruh lini perusahaan sebagaimana mestinya.

Kompetensi HR OUTSIDE In
Berikut ini adalah bagan kompetensi seorang HR Professionals.




6 Kompetensi Utama adalah: Strategic Positioner, Credible Activist, Capability Builder, Change Champion, HR Innovator & Integrator dan Technology Proponent.

Penutup
Konsep ini merupakan evolusi dari tahapan Pengelolaan HR sejak peran HR hanya sekedar administrative role. Akan saya sentuh dalam tulisan berikutnya tentang Evolusi Peran HR. Namun bukan berarti bahwa hal basic yang disebut administrative role itu sudah ditinggalkan.
Peran HR dalam tahapan sejak itu hanya akan bisa dilaksanakan dengan baik dan efektif, kalau sudah tidak disibukkan lagi dengan urusan admistratif, entah karena itu sudah dikerjakan profesional outsource atau dikerjakan di dalam dengan menggunakan support teknologi masa kini. Dengan demikian data-data utama yang dipunyai akan mempunyai peran yang lebih keren: sebagai sumber informasi untuk pengambilan keputusan.
Dalam era sekarang ini, HR professionals dituntut untuk bisa memiliki keenam kompetensi tersebut di atas, untuk bisa memainkan peran yang lebih strategis dalam perusahaan.

“Tell us about your business ! That’s how we like to start when we sit down to work with senior HR professionals.” (Dave Ulrich)

Mau Presentasi Sehebat Trainer ?

Mau Presentasi Sehebat Trainer ?
Info Detail KLIK Gambar

Leadership & People Development

Practical Coaching Konseling

Practical Coaching Konseling
Gabung KLIK Gambar atau Hubungi WhatsApp 085852316552

Corporate Trainer & Public Speaker

Certified HUMAN DEVELOPMENT