Diberdayakan oleh Blogger.

Young HRD Indonesia

Young HRD Indonesia
Dapatkan EBOOK GRATIS tentang Manajemen Sumber Daya Manusia, Dunia HRD, Leadership, Public Speaking & Ilmu Pengembangan Diri

Bergabunglah dengan Ribuan Pembelajar & Ratusan Rekan HRD lainnya :

Halaman Facebook Komunitas HRD Indonesia
Grup Facebook Komunitas Young HRD Indonesia
Grup Telegram Komunitas Young HRD Indonesia

Minggu, 31 Januari 2016

PEMIMPIN YANG INDAH


“PEMIMPIN YANG INDAH“

Oleh : Herry Tjahjono
Terapis Budaya Perusahaan


Kompas, 28 April 2015
Kisah ilustratif berikut ini menunjukkan betapa kepemimpinan sangat menentukan nasib sebuah organisasi. Apple, mendunia dan sukses fenomenal – setelah Steve Wozniak berpadu dengan Steve Jobs. Relatif sama, Richard dan Maurice McDonald mendirikan McDonald’s, namun setelah mereka bertemu Roy Kroc – MCDonald’s jadi mendunia. Konon ada satu faktor determinan yang membuat Apple dan McDonald’s mendunia, yaitu kepemimpinan dari Steve Jobs dan Roy Kroc. Itu sebabnya muncul sebuah paradigma spesifik dalam ilmu perilaku organisasi : jika kinerja sebuah organisasi menurun atau tidak produktif – langkah paling awal dan efektif untuk dilakukan adalah mengganti pemimpinnya.
Tak luput organisasi yang bernama Indonesia. Maksudnya, faktor kepemimpinan akan sangat menentukan gagal atau suksesnya Indonesia sebagai sebuah Negara. Dan ternyata salah satu kunci kebesaran seorang pemimpin adalah keberanian. Keberanian di sini bukan secara harfiah dan sempit, misalnya keberanian untuk berperang, melawan, menaklukkan, dan lainnya. Namun keberanian untuk mendengarkan nurani kepemimpinan atau inner voice (Stephen Covey) dan menjalankannya tanpa kompromi. Berdasarkan faktor keberanian mendengarkan nurani diri ini, ada dua jenis pemimpin :
Pertama, pemimpin konsensus ! Pemimpin konsensus adalah pemimpin yang menerima dan menjalani tugas kepemimpinannya sebagai kewajiban. Mekanisme kerja kepemimpinannya dilandasi oleh prinsip penawaran diri, transaksional. Artinya, seorang pemimpin melakukan tawar-menawar sehingga usaha, kerja, dan kinerja kepemimpinannya selalu dihubungkan dengan seberapa besar hasil atau resiko yang ia dapatkan. Pemimpin konsensus yang memandang kepemimpinan sebagai kewajiban ini biasanya akan lari dari tanggung jawab jika menghadapi risiko atau bahaya. Atau, jika dirasakannya penghargaan lebih kecil dari tugas dan risiko yang diemban, mereka menjalankan tugas seadanya, ala kadarnya – dan pada titik tertentu mereka akan memilih sikap untuk diam dan permisif – meski sadar bahwa kepentingan organisasi yang (lebih) besar sedang dikorbankan.
Gejala para pemimpin konsensus ini bermacam-macam, tapi intinya mereka akan selalu memperhitungkan bobot rasa aman kepemimpinan dibandingkan resiko yang harus dihadapi. Ekspresi kepemimpinan konsensus itu sangat tipikal seperti misalnya : “ saya hanya menjalankan tugas saya (karena tahu berhadapan dengan resiko melawan arus besar atau tidak populis), nothing to lose (biasanya dalam kondisi kepepet dan harus menjaga gengsi pribadi), saya tidak boleh melakukan intervensi (karena tahu intervensi itu akan mengusik rasa aman kepemimpinannya)”. Pendeknya, keberanian para pemimpin konsensus ini sebatas pada “kewajiban” yang dihitung setara dengan pernghargaan yang mereka terima, atau resiko yang dihadapi. Bahkan ia akan menentang nurani kepemimpinannya (inner voice) meski diyakininya benar.
Kedua, pemimpin kontributif ! Pemimpin kontributif ini sebaliknya, ia memiliki keberanian untuk mendengarkan nuraninya dan sekaligus menjalankannya nyaris tanpa kompromi. Dan sebagai dampaknya, pemimpin kontributif berani dan mampu melawan arus besar, suara mayoritas, suara partai, bahkan termasuk “otoritas” yang lebih tinggi (jika ada, baik itu otoritas individual maupun institusional). Don’t let the noise of others’ opinions drown out your own inner voice. And most important, have the courage to follow your heart and intuition – ungkapan kepemimpinan Steve Jobs inilah yang menentukan kebesaran dirinya sebagai pemimpin Apple.


Dalam skala yang berbeda, John F. Kennedy (JFK) adalah contoh relatif sempurna terkait konteks tulisan ini. Bahkan JFK disebut sebagai Profile in Courage – sesuai buku yang ditulisnya – bertutur tentang delapan senator pemberani dari berbagai partai (John Quincy Adams, Daniel Webster, Thomas Hart Benton, Sam Houston, Edmund G. Ross, Lucius Lamar, George Norris, dan Robert A. Taft) yang mampu mempertahankan sikap sesuai pilihan yang dianggap benar meski harus bertentangan dengan kemauan orang banyak, atau tekanan apapun lainnya. Meski untuk itu mereka harus mengorbankan karir dan popularitas politik mereka. Artinya, semua resiko dan rasa aman kepemimpinan dikorbankan demi kepentingan lebih besar yang disuarakan oleh hati nuraninya.
Sedangkan Peter F. Drucker menyebutkan bahwa tugas utama seorang pemimpin adalah melakukan hal yang benar, bukannya melakukan sesuatu dengan benar. Dari semua uraian di atas, kita paham – betapa langkanya pemimpin seperti itu di Indonesia. Kita telah memilih Jokowi, dan sejak awal kita berharap ia mampu menjadi pemimpin kontributif. Namun segenap output kepemimpinannya selama beberapa bulan ini – sampai sikap permisif selama Kongres PDIP di Bali baru lalu – menunjukkan bahwa sebagai presiden ia masih dalam tataran pemimpin konsensus.

Kepatuhan, loyalitas, sikap permisifnya – bukan cuma soal karakter pemimpin Jawa yang santun dan tepa selira – tapi soal keberanian untuk mendengarkan nuraninya dan melakukan sesuatu atas kepemimimpinannya sendiri. Dia sadar bahwa kepemimpinannya yang selama ini lebih banyak dikendalikan oleh tekanan partai, senioritas pemimpin partai, dan tekanan arus besar lainnya – membuat output kepemimpinannya tidak efisien dan tidak efektif untuk kepentingan bangsa. Dia juga sadar bahwa sikap kepemimpinannya yang permisif sungguh membuat dirinya sebagai personifikasi simbol kepala pemerintahan dan Negara, dijatuhkan. Mungkin Jokowi telah melakukan kewajibannya dengan benar (permisif, patuh). Namun ia melalaikan tugas utamanya sebagai pemimpin, yaitu melakukan sesuatu yang benar (versi Drucker). Dia belum menjadi profile in courage (versi JFK).
Jokowi orang baik, namun ia perlu punya keberanian untuk mendengarkan nurani kepemimpinannya, sekaligus menjalankannya tanpa kompromsi – bahkan jika untuk itu harus mengorbankan popularitas dan karir kepemimpinannya. Namun pada titik itu, Jokowi akan dihormati dan dikenang sebagai pemimpin kontributif bagi bangsa ini. Dan mengadaptasi Dr. Chaterine Roberts : Pemimpin, melalui pengetahuan keinsanian yang unggul bisa mengetahui apa arti menjadi seorang pemimpin, yaitu jika ia bisa memberikan sumbangsih (kontribusi) pada kehidupan dan kepemimpinannya. Dengan sumbangsih itu, ia seinsani-insaninya pemimpin, alangkah indahnya.

Kita pernah memiliki pemimpin insani yang indah, seperti misalnya Hoegeng atau Hatta. Dan sampai batas tertentu, sekarang salah satunya ada Menteri Susi – yang berani mengatakan : Kalau Jokowi (dan JK) tak lakukan perubahan, berarti kita salah pilih ! Sungguh, kita merindukan pemimpin yang indah seperti itu !

0 komentar:

Posting Komentar

Ebook Jawaban Wawancara Kerja

Kelas Online HR Management MasterClass

Jasa Desain Surat Lamaran Kerja

Jasa Desain Surat Lamaran Kerja
Info detail hubungi WA 085852316552

Mau Presentasi Sehebat Trainer ?

Mau Presentasi Sehebat Trainer ?
Info detail hubungi WA 085852316552